Rabu, 12 September 2012

Aku Hanya Menikmati Hidupku



            Hai! Kamu yang disana. Apa kabarmu? Semoga semangat sang surya masih menular padamu. Dan kuharap aku pun begitu. Kau tahu? Sapaanmu tadi pagi amat sangat menghangatkan hatiku, membuat rona merah kembali bersemi di wajahku yang kaku. “Pagi dek”. Kau tahu? Menyenangkan sekali rasanya. Benar – benar seperti aku menemukan kau yang dulu.
            Hari ini, aku hanya tersenyum dan tersenyum. Aku teringat saat kita bertukar pesan tadi malam. Rasanya benar – benar seperti dulu. Ah, andai saja waktu itu kau tak begitu… Tapi, buat apa aku menyesali nasi yang terlanjur ajur menjadi bubur? Tak ada gunanya menyesali segalanya. Pasti ada hikmah dibalik semuanya, dan aku sangat yakin akan hal itu!
            Mas Ilusi. Begitu biasanya kawanku memanggilmu. Haha, lucu sekali. Dulu aku sempat berusaha menganggapmu ILUSI di hidupku, agar aku tak lagi mengingatmu. Namun, agaknya aku tak mampu. Kau terlalu dalam menghunjam disini. Jadi, agaknya kau tak pantas kujadikan ilusi ya?
            Oh iya! Aku ingin bercerita sesuatu padamu. Aku senang menjalani hidupku saat ini. Aku sekarang sudah memiliki adik kelas, dan itu berarti aku sudah semakin besar ya? Sejujurnya, dengan nilaiku yang ‘sedikit’ memprihatinkan di semester kemarin, aku sadar untuk mengurangi kegiatanku di sekolah. Namun, agaknya, aku justru semakin sibuk ya? Kau melihatku lari kesana kemari, kan?
            Aku tonti lagi, dan mau ikut debat bahasa Inggris. Dan lagi, aku masih mengurusi beberapa hal. Eh, tapi aku sudah tidak ikut kepanitiaan macam – macam lagi lho. Apa itu bisa jadi salah satu upayaku mengurangi kegiatan? Hehe. Ah, aku malah jadi curhat denganmu. Haha.
            Salah kah jikalau aku masih membalas pesanmu? Tidak, kan? Toh, kita berteman kan sekarang? Hehe. Kalau suatu saat aku mengingat masa – masa itu, salah kah? Hm… Semoga tidak ya? Hehe. Ah, aku kian melantur rupanya!
            Aku hanya menikmati hidupku sekarang ini. Denganmu di sampingku sebagai temanku. Jujur, aku takut memberi harapan kepada lelaki lain, jadi kuputuskan untuk tidak memilih siapa pun. Semoga keputusanku benar ya? Jujur, aku takut akan menjadi seorang pemberi harapan palsu. Semoga aku tidak melakukannya…
            Dan ditemani kerlip bintang yang menaungi hatiku, aku masih ingin terus berbincang denganmu. Sampai nanti, sampai aku terlelap di alam mimpi. Sampai nanti, sampai kau merapatkan jaketmu erat – erat. Ah, bicara masalah jaket, aku jadi teringat gerimis yang manis itu. Betapa aroma jaketmu masih tersisa disini. Ah, masa lalu yang indah ya?
            Aku mengerling manis pada kalender tak jauh dari dekatku. Sebelas adalah tanggal sekarang ini. Besok dua belas. Kau ingat? Di tanggal dua belas? Di waktu beberapa bulan yang lalu, apa yang terjadi? Yah, satu hal yang menjadi kenangan pahit bagiku. Dan selama itu, kau bisa tertawa – tawa dengannya, tapi aku tidak. Hehe. Dunia tidak adil ya? Memang dunia tak pernah adil, apalagi padaku. Namun, itu masa lalu kok. Untuk apa kuungkit kembali?
            Betapa pun mereka berkata kau hanya ilusi. Betapa pun mereka memaksaku menganggapmu ilusi, mimpi di siang hari. Namun, aku tak bisa munafik lagi. Bagiku kau bukan ilusi. Dan jika di masa lalu kau gagal menjadi yang terbaik bagiku. Adakah kesempatan kedua bagimu? Mungkin kah suatu saat nanti, entah kapan waktunya, kau menjadi masa depanku? Entah. Hanya Tuhan yang tahu…
Kini, aku hanya bisa menikmati hidupku…
Dan aku memang HARUS menikmati hidupku…
Dengan, atau tanpamu…

Yogyakarta, 11 September 2012
19:20 WIB

Jadi… Aku Harus Apa?



            Saat ini, aku hanya terdiam menatap monitor laptop yang menyala di depanku. Aku me-review segala sesuatu. Memutar ulang segala kisahku. Aku terdiam, masih tetap terdiam. Tak ada getaran ponsel yang memaksaku untuk berpaling, atau untuk sekedar memecahkan keheningan. Aku menghembuskan nafasku lembut, angin kecewa sedikit berhembus.
            Hari ini, entah mengapa, dadaku sesak sekali. Sakit, dan benar – benar pedih. Rasanya air mataku ingin tumpah, dan aku tak tahu apa sebabnya. Saat itu, aku duduk di depan kelasku, melihat anak kelas X yang lalu lalang menuju kantin. Aku dikelilingi sahabat – sahabatku, satu orang sahabatku yang rajin dan rapi catatannya, satu orang sahabatku sesama jurnalis di majalah sekolah, dan dua orang sahabatku yang tengah keranjingan serial Glee.
            Jikalau aku tak mengingat banyak anak kelas X lewat sini, mungkin air mataku benar – benar tumpah. Apa ini semua karenamu? Entah! Batinku tak berkata iya, namun tak juga berkata tidak. Entah rasa sesak ini sudah muncul sejak kapan. Mungkin sejak tadi malam, saat air mataku tak sengaja keluar saat aku berusaha tidur, saat headset di telingaku menyenandungkan lagu Korea “Because I Miss You” dari Jung Yong Hwa yang menjadi soundtrack drama Heartstrings.
            Di tengah adik – adik ‘manis’ yang mengucap “mari mbak” “permisi mbak” “pagi mbak” dan “siang mbak” aku tersenyum sekedarnya untuk membalas mereka yang sudah bersusah – susah menyapa kakak kelas tidak penting sepertiku. Aku juga tersenyum mendengar celoteh lucu kawan – kawanku tentang apa pun. Namun, mataku tak bisa berbohong, hingga sahabat – sahabatku menangkap rasa tak nyaman di hatiku. Aku bingung harus menjawab apa, karena aku tak tahu apa sebabnya. Hatiku seolah mati rasa.
            Hingga kini pun aku tak tahu apa yang kurasa, atau apa yang membuat hatiku sedemikian sakitnya. Mungkin hanya Tuhan yang tahu sebenarnya. Mustahil ini semua karenamu! Mustahil! Kau kan (sudah) bukan siapa – siapaku? Pasti ini bukan karenamu!
            Namun, tiba – tiba sekeping hatiku menyangkal pernyataanku itu. Tapi, sebagian lagi membenarkan. Ini adalah perang batin paling menyakitkan. Oke. Mungkin aku hanya ‘sedikit’ berpikir tentangmu. Tapi selebihnya entahlah! Kau mungkin orang paling aneh yang pernah kutemui. Kau orang yang paling membekas disini.
            Kau suka datang dan pergi seenakmu sendiri. Kau tak mempedulikan apa dan bagaimana hatiku yang rapuh ini. Hah! Kedengarannya kau jahat sekali ya? Tapi, tak juga! Nyatanya, terkadang kau membuatku tersenyum bahagia, atau bahkan tertawa! Kau yang membuatku lebih menikmati hidup dengan sifat santaimu. Jujur, aku butuh orang sepertimu, yang bisa sedikit mengendorkan ketegangan di hidupku.
            Tapi, tetap saja, kau tak punya perasaan! Huh! Bodohnya aku pernah (atau mungkin masih) menyukaimu. Tapi, kupikir – pikir, aku tak boleh menyalahkan hatiku yang tak sengaja ‘jatuh’ padamu. Sejujurnya, aku juga tak bisa kembali padamu. Karena aku tak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun, mengapa saat ini hatiku sakit lagi? Apa hanya karena kau ‘sedikit’ jauh? Hah! Bodoh kalau aku mengiyakannya!
            Namun, kurasa seperti itulah adanya. Jadi, aku bodoh ya? Mungkin iya. Tapi, mungkin juga tidak. Aku hanya sedikit naif. Hah! Naif! Masih juga aku membelamu. Keracunan apa sih aku? Jelas – jelas kau sebegini jahat padaku. Harusnya aku menceburkanmu ke samudera Hindia sekalian.
            Memang beberapa bulan yang lalu aku bisa hidup tanpamu. Namun, ada seseorang disampingku. Tapi, jujur, aku belum siap untuk memulai hal yang baru dengan orang yang baru juga. Masih ada luka disini, yang belum seutuhnya terobati. Dan aku seolah menjadi ‘gadis pemberi harapan palsu’ padanya, padahal bukan maksudku seperti itu. Apa aku jahat? Entah. Yang penting niatku tidaklah seperti itu…
            Dan saat aku berusaha untuk benar – benar sendiri, ah kau lagi, kau lagi. Kau memang suka datang dan pergi tanpa permisi! Kasihan hatiku yang masih recovery ini! Kalau datang ya datang, kalau pergi ya pergi. Susah amat sih menentukan sikap? Atau kalau kau mau datang sebagai kawan, ya nyatakan keinginanmu itu, dan bersikap layaknya kawan dekatku. Atau kalau kau mau datang untuk kembali seperti dulu, ya berusahalah tunjukkan niatanmu. Jangan datang dan pergi semaumu sendiri…
            Sebelah hatiku masih ingin kembali. Tapi, sebelah hatiku lagi menolakmu untuk kembali lagi. Hati ini sangat kontradiksi! Aku terdiam lagi. Ternyata berurusan denganmu sulit sekali. Bulir air mata yang kubenci menetes lagi. Hatiku masih tetap kontradiksi. Aku tetap terdiam ditemani lagu – lagu yang kuputar. Aku benci saat – saat seperti ini.
Mungkin di rumahmu sana atau dimanapun kau berada, kau tak peduli! Mau aku menangis, mau aku tersenyum, mau aku tertawa, bahkan mau aku hampir mati pun, kau tak peduli, kan? Aku hanya mampu tersenyum sarkas disini, membayangkan mungkin disana kau tidur siang tanpa memikirkanku sama sekali. Bodohnya aku yang mau – maunya memikirkanmu!
Tapi, bukankah dalam pedomanku, hidup adalah petualangan? Dalam petualangan, tidak ada kata untuk mundur atau kembali. Aku harus terus berjalan maju. Aku mungkin akan singgah di beberapa tempat, menentukan dimana aku nyaman dan tidak. Jika aku nyaman, aku mungkin akan tinggal beberapa waktu, atau mungkin selamanya. Dan di saat aku masih berpetualang, janganlah memintaku kembali. Karena, pantang bagiku untuk berjalan mundur atau kembali. Namun, bukankah dunia ini bulat? Jika aku terus berjalan maju, bukan tak mungkin aku akan kembali pada titik awalku yaitu kau, kan?
Aku mungkin hanya akan menengokmu disaat aku rindu persinggahanku yang nyaman itu. Namun, aku mungkin bisa bersamamu asal kau memberikan kenyamanan bagi hatiku yang masih rapuh ini. Ah! Entahlah! Bicara apa aku ini? Jadi, bahkan hingga detik ini batinku masih terus kontradiksi. Ya Tuhan, apa arti semua ini? Sebelah berkata begini, sebelah berkata begitu.
Dan masih di suasana yang sama. Di atas kasur berseprai biru dengan gambar kucingnya, dan sayup – sayup lagu terdengar. Aku masih tak tahu aku ini bagaimana. Aku masih tak tahu mengapa dadaku begini sesak rasanya. Aku masih tak tahu bagaimana rasaku yang sebenarnya. Jadi… Aku harus apa?


Yogyakarta, 8 September 2012
15:13 WIB

I Didn’t Know What Is It


It all begins from here…
Whenever I tried to talk to you…
You haven’t ever come…
I just cried all day long…
Wondering if you’ll come here…
To erase my tears…
To safe me from my fears…
To hold me from my failures…
But, I’m false… You’re not here!

I still walked alone in the edge of the street…
I remember all of our memories…
Whenever we talked together…
Whenever you’re in my side…
Whenever you looked at me…
Whenever you’re smiling to me…
Whenever you’re talking about everything to me, or you let me talk about everything to you…
Whenever you walked beside me, like you’ll safe me forever…
Whenever we got our long chat…
Whenever we ate together…
Whenever our friends yelled at us…

It makes me crazy…
I lose my control…
I just yell and yell…
I don’t know what people said! Whatever! I f*cked up everything!
I just cry and scream with my tears, my fears, among the rains!
I feel like I want to kill you!
I want to erase all of this pain, all of these tears, all of these memories!
But, I can’t!
I can’t do it by myself!

But, in this gloomy day…
I feel like we’re so close and close…
I regret my decision and so does you…
But for sure…
I can’t go back to our old story…
It just our memories…
It just my past!
And maybe, it’ll never be my future…
I just can stand, smiling to you…
I’m so sorry, I can’t go back…
However I still have this feeling…
Yeah, I can’t lie…
It’s hard indeed to forget you, to forget our memories… Our sweet memories…

But, any regrets…
Is it so useful?
Our regrets, is it useful?
I don’t know, for sure…
But, I don’t hate you…
But, I don’t try to throw away everything…
Every centimeter of our memories…
Every second of our memories…
I will remember it… :’)

PS: But now… Would you like to be my good friend? I wish you would…

Apa Arti Semua Ini?


Aku masih sendiri…
Menyusuri jalanan sepi…
Tak tahu kemana langkah kaki membawa hati ini…
Aku tetap sendiri…
Meski banyak hati ingin menemani…
Aku memilih tuk sendiri, tak peduli di kanan kiri…
Aku hanya sendiri…
Menatap lazuardi yang bicara berbisik…
Saat sepotong hatimu hanya berjarak 5 senti…
Kaset memori itu terputar lagi…
Mencabik hatiku yang masih nyeri…
Aku terdiam lagi…
Merasakan sesak pedih di dada ini…
Peluhku, buihku, tangisku terjatuh lagi…
Meski sebaris senyumku tetap terpatri…
Dan saat sepotong hatimu pergi lagi…
Sesak ini kian menjadi…
Apa yang terjadi pada diri ini?
Oh Tuhan, apa arti semua ini?

Sabtu, 01 September 2012

Apa Gunanya?


Apa gunanya?
Aku terdiam menanti balasan pesan darimu…
Apa gunanya?
Aku linglung memikirkan kata – katamu…
Apa gunanya?
Aku tak nafsu makan mengingatmu…
Apa gunanya?
Aku menangis hanya karenamu…
Apa gunanya?
Aku tersenyum untukmu, meski hatiku menangis pilu…
Apa gunanya?
Aku membisu mendengarmu memutuskan segala sesuatu…
Apa gunanya?
Aku mempertahankan rasaku, sementara kau mencari yang baru…
Apa gunanya?
Aku mengais kenangan itu untuk tetap menyukaimu…
Apa gunanya?
Aku mempertahankan yang telah berlalu…
Apa gunanya?
Aku tak tenang menebak bagaimana hatimu…
Kan kujawab sesuai hati nuraniku…
Tanpa kupikirkan semua rasaku padamu…

#teruntuk sahabat – sahabatku yang sedang pilu… kali ini, ini semua bukan curahan hatiku… memang aku seolah memposisikan dirimu itu aku… namun kali ini, aku menulis tentang perasaanmu, kamu yang sedang ditinggalkan olehnya… pikirkan semua kata – kataku… kesampingkan emosimu, gunakan nalar sehatmu… resapi dalam – dalam, telisik segala sisi untung dan rugi jika kamu mengingatnya… dan JANGAN lah kamu bertanya padaku tentang bagaimana cara melupakannya… karena, meskipun aku sudah bertekad untuk tidak kembali, aku belum bisa melupakannya :’)

Salam sayang,
Sahabatmu

Some of “The Tales of Beedle The Bard” ~ Part 2 (end)


Holaa! :D

Ada part 1 pasti ada part 2 :D

Nah, sekarang aku mau ngasih salah satu kisah yang aku suka juga.. Kisah kelima alias terakhir dalam buku Kisah – Kisah Beedle Si Juru Cerita :) Judulnya adalah “Kisah Tiga Saudara”
Mau tahu ceritanya? Let’s check it out :D


Kisah Tiga Saudara

     Pada zaman dahulu, ada tiga saudara, kakak-beradik laki – laki, yang berkelana melewati jalan panjang berliku – liku di senja hari. Pada waktunya, ketiga saudara ini tiba di sungai yang terlalu dalam untuk diseberangi dengan berjalan kaki dan terlalu berbahaya untuk diseberangi dengan berenang. Meskipun demikian, ketiga saudara ini menguasai ilmu sihir, maka mereka tinggal melambaikan tongkat sihir mereka dan sebuah jembatan muncul di atas air yang berbahaya itu. Mereka sudah tiba di tengah jembatan ketika ternyata jalan mereka dihalangi oleh sosok berkerudung.
     Dan Kematian berbicara kepada mereka. Dia marah karena telah kehilangan tiga korban baru, karena para pengelana biasanya tenggelam di sungai. Tetapi Kematian licik. Dia berpura – pura memberi selamat kepada ketiga saudara ini atas sihir mereka, dan berkata masing – masing berhak mendapatkan hadiah karena telah cukup pintar untuk menghindarinya.
     Maka, si sulung, yang suka bertempur, meminta tongkat sihir yang lebih hebat daripada semua tongkat sihir yang ada: tongkat sihir yang harus selalu memenangkan duel bagi pemiliknya, tongkat sihir yang layak diterima penyihir yang telah mengalahkan Kematian! Maka Kematian menyeberang ke sebatang pohon elder di tepi sungai, membuat tongkat sihir dari dahan yang menggantung disana, dan memberikannya kepada si sulung.
     Kemudian si tengah, orang yang sombong, memutuskan dia ingin mempermalukan Kematian lebih jauh lagi, dan meminta kekuatan untuk memanggil yang lain dari Kematian. Maka Kematian memungut sebutir batu dari tepi sungai dan memberikannya kepada si tengah, dan memberitahunya bahwa batu itu akan memiliki kekuatan untuk mengembalikan orang yang sudah mati.
     Kemudian Kematian menanyai si bungsu, apa yang diinginkannya. Si bungsu ini yang paling rendah hati dan juga paling bijaksana di antara ketiga kakak-beradik ini, dan dia tidak mempercayai Kematian. Maka dia meminta sesuatu yang bisa membuatnya melakukan perjalanan dari tempat itu tanpa diikuti oleh Kematian. Dan Kematian, dengan amat sangat enggan, menyerahkan Jubah Gaib-nya sendiri kepadanya.
     Kemudian Kematian menyisih dan mengizinkan ketiga kakak-beradik itu melanjutkan perjalanan mereka, dan mereka pun melanjutkan perjalanan, sambil membicarakan dengan takjub petualangan yang telah mereka alami, dan mengagumi hadiah dari Kematian.
     Pada saatnya ketiga kakak-beradik ini berpisah, masing – masing menuju tujuan mereka sendiri – sendiri.
     Si sulung berjalan kira – kira seminggu lagi, dan tiba di suatu desa yang jauh, mencari penyihir kenalannya, dengan siapa dia pernah bertengkar. Tentu saja, dengan Tongkat Sihir Elder sebagai senjatanya, dia tak mungkin kalah dalam duel yang terjadi. Meninggalkan musuhnya mati di lantai, si sulung menuju tempat penginapan. Di sana dia membanggakan keras – keras kehebatan tongkat sihir yang telah diperlehnya dari Kematian sendiri, dan tentang bagaimana tongkat itu membuatnya tak terkalahkan.
     Malam itu juga, seorang penyihir lain mengendap – endap mendatangi si sulung yang sedang terlelap, bersimbah anggur di tempat tidurnya. Pencuri ini mengambil tongkat sihirnya dan sebagai tambahan menggorok leher si sulung.
     Maka Kematian mengambil si sulung sebagai miliknya.
     Sementara itu, si tengah pulang ke rumahnya, tempat dia hidup sendiri. Dia mengeluarkan batu yang memiliki kekuatan untuk memanggil orang mati, dan memutarnya tiga kali dalam tangannya. Betapa heran dan gembiranya dia, sosok gadis yang dulu pernah diharapkannya untuk dinikahinya, sebelum gadis itu meninggal dalam usia muda, muncul seketika itu juga di hadapannya.
     Meskipun demikian gadis itu sedih dan dingin, terpisah darinya seolah oleh sehelai selubung. Walaupun telah kembali ke dunia orang hidup, dia sesungguhnya bukanlah bagian dari dunia itu dan menderita. Akhirnya, si tengah, menjadi gila karena kerinduan yang sia – sia, membunuh  diri supaya bisa benar – benar bergabung dengan gadis itu.
     Maka Kematian mengambil si tengah sebagai miliknya.
     Namun, meski Kematian mencari si bungsu selama bertahun – tahun, dia tak pernah berhasil menemukannya. Barulah ketika telah mencapai usia sangat lanjut, si bungsu membuka Jubah Gaib-nya dan memberikannya kepada anak laki – lakinya. Dan kemudian dia menyalami Kematian sebagai teman lama, dan pergi bersamanya dengan senang, dan sebagai teman sederajat, mereka meninggalkan kehidupan ini.

Tamat



How? It’s very cool, isn’t it? :D

Aku suka bangeet cerita ini…

Oh iya, tentang catatan dari Albus Dumbledore, aku nggak bisa nulisin nih…
Aku takut nanti temen – temen nggak beli bukunya, padahal royalti buku ini bakalan didonasikan ke Children’s High Level Group, untuk membantu kehidupan anak – anak terlantar :)

Masih sama dengan part 1-nya, aku akan memberikan komentar:

 
Catatan Erwita Danu Gondohutami tentang “Kisah Tiga Saudara”:

            This story is very full of moral value. Bagaimana yang sombong, yang tamak dan serakah akan mendapatkan balasan setimpal yaitu Kematian akan merenggutnya dalam waktu dekat dan dengan kondisi mengerikan. Hii…
            Sebaliknya, bagi si bungsu yang bijaksana dan rendah hati, dia selamat… Dia bisa hidup sampai tua dengan tenang, lalu akhirnya pergi dari kehidupan ini dengan tenang juga. Karena memang Kematian itu tidak dapat dilawan. Bahkan penyihir – penyihir pun nggak bisa melawannya, apalagi kita yang Muggle alias manusia biasa.
            Menurutku, kisah ini sangat mengingatkanku ke buku dan film dari Harry Potter and The Deathly Hallows. Jubah Gaib, Batu Kematian, dan Tongkat Sihir Elder. Semuanya ada di buku dan film Harry Potter ketujuh itu. Aku jadi berimajinasi dan berpikir – pikir… Mungkin kah si bungsu itu ayah, atau kakek, atau kakek buyut, atau kakek canggah, atau yaa istilahnya nenek moyang dari Harry Potter?? Hmm… It’s really… Aah! Ada benang merahnyaaa :D hehe. Tapi, apapun yang terjadi, semua kebenaran hanya ada di benak Mrs. JK Rowling seorang ;D


Yoyoyoy! Akhirnya saya berhasil juga menyampaikan dua cerita favorit saya pada buku Kisah – Kisah Beedle Si Juru Cerita :D

Hmm… Bagaimana teman – teman? Tertarik buat baca kisah lainnya?

Masih ada 3 kisah lagi lho! Ada Sang Penyihir dan Kuali Melompat, Babbity Rabbity dan Tunggul Terbahak, dan satu lagi Penyihir Berhati Berbulu.
Bagi teman – teman yang tertarik, langsung cuus aja ke Gramedia atau toko buku terdekat dan dapatkan segera! #malahiklan-_- hehe


Last but not least…
Terimakasih buat yang sudah baca…


See you at my other posting :D *lambai tangan, kiss bye ala anak kecil*

Aku Cinta Widya Bhakti Taruna (WIBHAKTA) SMA Negeri 7 Yogyakarta :*


SMAVEEN… SMAVEEN… SMAVEEN ALEE SMAVEEN… OOOO.. OOOOO.. OOO.. OO.. OOOO

Itu adalah secuil sorakan kami pada pertandingan Honda DBL 2012 lalu :D
Then, hari ini, aku akan menceritakan tentang sekolahku, SMA Negeri 7 Yogyakarta alias Widya Bhakti Taruna (WIBHAKTA) :D


What is SMAN 7 Yk?
SMA Negeri 7 Yogyakarta adalah sebuah sekolah menengah atas (senior high school) negeri di kota Yogyakarta. Sekolahku ini biasa disebut SMAVEN atau bisa juga SEVENERS :D hehe. Oh iya, kami juga punya nama lain yaitu WIBHAKTA singkatan dari Widya Bhakti Taruna! Pokoknya, intinya smaven itu ingin mencetak taruna – taruna yang berbakti dan mengabdi pada Negara *wuush* #insyaAllah bener :D
Oh iya! Sekolahku ini bekas Rumah Sakit Pugeran looh! Hiiiii… Sereem… Eh, nggak juga sih! Meskipun sekolah ini pernah masuk acara reality show mistis yang dulu terkenal banget yaitu ‘Percaya Nggak Percaya’ *hayoo masih ingeet gak? :p* tapi, nyatanya aku nggak pernah liat penampakan apa – apa selama aku sekolah disini :)

Where is SMAN 7 Yk?
Berhubung banyak orang yang nggak tahu smaven itu dimana, oke akan aku kasih tah smaven beralamatkan di Jalan MT Haryono 47 Yogyakarta 55141, atau bisa juga dengan cara ngasih ancer – ancer, caranya dari Alun – Alun Selatan ke selatan ada plengkung Gading ke barat. Nah, liat aja selatan jalan sebelum pojok beteng kulon, pasti ketemu deh! :D

How is SMAN 7 Yk?
Aduh nanya how ya? Bisa sampe lebaran monyet nih yang jelasin ._. Mulai dari mana yaa? Ah iya! Kita mulai dari gambaran fisik dan apa aja yang ada di dalamnya yaa :D hehe. Let’s check this out!
Masuk gerbang smaven, kita dihadapkan oleh satu pos satpam dan satu ruang piket guru. Nah di pos satpam ini nih biasanya seveners pada suka nitip helm! Soalnya, nitip disini tuh aman :D hehe. Masuk langsung aja kita ke kanan ada tempat parkir untuk guru dan tamu, ke selatan lagi ada laboratorium fisika, dan kimia. Selatannya lagi ada ruang agama Katholik dan Kristen :) Dan selatannya lagi ada green house! Apa ituu? Green house adalah tempat buat membudidayakan berbagai macam tanaman :) hehe.
Lalu ke kanan lagi ada ruang kelas baru looh :3 Khusus buat adik – adik kita kelas X5, X6, X7, dan X8. Ada laboratorium sejarah jugaa… Lalu selatannya ada lapangan basket dan lapangan voli yang supeer lebaar! Tapi, pada prakteknya, lapangan voli biasanya dipake untuk futsal. Karena apaa? SMAN 7 Yk punya 2 lapangan voli loh :D hehe. Di sekitar lapangan itu ada parkiran siswa, dan blue house. Apa itu blue house?? Yak! Blue house adalah tempat khusus pengolahan limbah jadi pupuk :D hehe. Kita balik lagi deh. Wah, ternyata di depan kelas X5 s.d X8 itu ada laboratorium biologi juga lhoo :D
Kembali lagi dan menyusuri jalan ke selatan, ada ruang kelas X4, X3, X2, X1, XI IPA 5, XI IPA 4, XI IPA 3, dan KANTIN! Yap! Kantin ada di bagian paling selatan dan paling belakang! Kantinnya terdiri dari 5 penjual berbeda dan semuanya bersaing secara sehat! Bahkan pas es teh es jeruk mau naik harga jadi 1.500, para penjual kantin itu rapat dulu buat kompakan nentuin harga! WOW! :D
Balik lagi, dan kita jalan ke timur yuuk! Ada ruang kelas XI IPA 2, XI IPA 1, XI IPS 3, dan XI IPS 2. Di depan kelas XI IPS 2 – XI IPA 1 ada taman dengan kolam teratainya looh :3 hehe. Timur kelas XI IPS 2 adalah mushola Adz – Dzikri yang sekarang sedang direnovasi. Mohon doanya yaa biar cepet selesai, oh ya yang mau bantu boleh jugaa hubungi saya nanti pasti saya sampaikan kok :) Timurnya lagi ada 1 ruang AVA yang dengan sangat terpaksa dipakai dulu oleh kelas XI IPS 1, dan di utaranya ada ruang kelas XII IPS 2 (bisa juga kalau mau visit blog kelasnya di http://socialtwoclass713.blogspot.com lho).
Berjalan ke utara lagi, sebelum kelas ada satu tempat kebanggaan smaven yaitu Perpustakaan Digital. Setelah itu, ada kelas XII IPS 1, XII IPA 6, XII IPA 5, XII, IPA 4, XII IPA 3, XII IPA 2, dan XII IPA 1. Di depan kelas XII ada taman jugaa lho :D Kalo yang ini tamannya ada kolam 7-nya :D Dan ada pohon kelengkeng *kalo ga salah* yang dibawahnya banyak tempat duduk, jadi bisa leyeh – leyeh disitu :D Dan di deket situ juga ada Koran Dinding alias kording dan ada juga Mading! Oh iya, berhubung murid SMAN 7 itu banyaak, jadi di belakang kelas XII ada parkiran siswa lagi. Lha? Terus dimana ruang guru dllsb?? :O
Tenang! Masih ada banyak yang belum diceritakan ;) Jadi, begitu masuk gerbang, kita akan melihat bangunan sisi tengah *wuussh istilahku._.* yaitu Gedung Induk, Bangsal Wiyata Mandala, dan Ruang Guru. Pertama, gedung induk! Gedung induk itu bangunan terpisah, semacam lobby gituu. Ada ruang kepala sekolah, ruang wakasek, ruang Tata Usaha, ruang pembayaran SPP, sama ICT center atau ruang sidang *biasanya buat rapat guru gituu*, dan di lantai dua ada lab TIK yang sudah memakai sistem jaringan, lab Bahasa, dan basecamp buat para pembesar TI di SMAN 7 Yk.
Selatannya lagi, ada Bangsal Wiyata Mandala. Nah, antara gedung induk dan bangsal itu lah lapangan upacara SMAVEN, dan di sisi timurnya biasa dipakai ekskul voli untuk latihan *bisa dibilang lapangan kedua gitu deeh*. Bangsal Wiyata Mandala sendiri merupakan bangunan asli dan termasuk cagar budaya yang dilindungi lho :D Bentuknya seperti pendopo, dan sangat multifungsi… Yaa bisa dibilang Bangsal adalah AULA ISTIMEWA-nya anak SMAN 7 Yk.
Masih menyatu dengan bangsal, di sebelah timur ada UKS yang punya satgas sendiri, lengkap dengan peralatan gigi juga, dan di selatannya ada perpustakaan SMAN 7 Yk yang cukup lengkap dan sudah memakai sistem jaringan. Di sebelah barat bangsal *masih menyatu jugaa* ada koperasi siswa lengkap dg fotokopian, dan kantin kejujuran. Ke selatan lagi, ada ruang OSIS, dan basecam WHO (Wibhakta Hiking Organization) ekskul pecinta alamnya smaven. Nah, buat bangunan tengah yang paling selatan ada ruang guru niih :D Cukup buat menampung banyak guru looh :3
Now! Let’s go to the other topics! Hmm… Bagaimana kalau ngomongin ekskul? Yayaya! Hampir semua eksul ada disini :D Mulai dari yang berbau olahraga, seni, bahasa, hobi, sampai keterampilan. Dari ekskul basket (SVB), cheerleaders dan dance (SVC), voli, futsal, tenis meja, seni musik, seni tari, teater, English debate club, Japan club, WHO (Pecinta Alam), diskomvis, KIR, menjahit, Peleton Inti KARTIKA *yang notabene pasukan khusus dari smaven utk hal baris berbaris* dan lain – lain *aduuh nyampe lupaa saking banyaknyaa..maaf buat ekskul yang nggak ketulis ^.^v* hehe. Dan perlu diingat semuanya berprestasi! Nggak ada yang nggak menyumbangkan piala, atau sekedar mengharumkan nama SMAN 7 Yogyakarta. :)
Untuk klub – klub lain, ada juga CSS (Club Seni SMAVEN) yang isinya menampung semua bakat seni di SMAN 7 Yk, dan untuk jurnalistik SMAN 7 Yk saking kerennya nyampe punya 2 yaitu majalah dan Koran! Widiiih :D BRATA adalah nama majalah SMAN 7 Yk, dan aku salah satu reporter di BRATA. BRATA merupakan suatu media aspirasi siswa, dan nama BRATA bukan merupakan singkatan, tapi ada artinya, dan arti dari BRATA adalah “jalan hidup yang diyakini dengan sungguh – sungguh”. Oh iyaa bagi yang mau follow silakan di @bratamagz :D hehe. Untuk Koran, ada KORAN SEVENERS! Yapyapyap! SMAN 7 Yk termasuk sekolah keren karena punya koran online! Bagi anda – anda yang pengin lihat – lihat, silakan visit saja di http://koran.seveners.com atau bisa juga follow @koran7ers :D Koran Seveners, Isinya Bisa Apa Saja Dan Diterbitkan Kapan Saja. Jayalah pikiran angkatan muda! :)
Bagaimana dengan organisasinyaa? Hmm… OSIS, MPK, dan Rohis Adz – Dzikri di SMAN 7 Yogyakarta siap melayani anda! :D Seperti yang dikatakan Bu Reni Herawati, M.Pd.BI *kepsek smaven sekarang ini* MPK itu ibaratkan dewan kehormatannya SMAN 7 Yk, MPK itu pendampingnya OSIS, tempat sharing-nya OSIS, jadi nggak bisa dibandingkan dong MPK sama OSIS ;) Keduanya sama – sama berperan penting, sama – sama bekerja, dan sama – sama dibutuhkan! :D
Kalau OSIS sudah jelas yaa… OSIS itu seperti kepala dari berbagai club, organisasi lain seperti ROHIS, dan ekskul. OSIS di SMAN 7 Yk sudah cukup sukses menjadi ‘kepala’, dan OSIS WIBHAKTA (nama OSIS smaven) nggak membedakan gender loh! Buktinya periode ini aja ketuanya perempuan yaitu Mbak Wilda Suci Hidayah :D Masalah ROHIS aku nggak terlalu tahu sih.. Hehe *pasang muka innocent* Soalnya aku sendiri gak terlalu aktif di bidang kerohanian Islam gituuh u,u Tapi yang jelas Rohis Adz Dzikri itu udah bisa menyelenggarakan banyak kegiatan yang kereen :D

Why did I love SMAN 7 Yk so much?
            Because, SMA Negeri 7 Yogyakarta is my everthing :* Aku benar – benar menemukan banyak hal berharga disini. Yang semakin bikin aku cinta adalah rasa kekeluargaannya yang bener – bener kereen :D Kakak kelasnya nggak ada yang songong – songong :) Semuanya baik – baik banget, dan nggak senioritas bangeet. Aku pernah nanya kok bisa kakelnya nggak nunjukin sikap senioritas gitu? Ternyata jawabnya, selama kalian nggak berulah ngelunjak, sombong, dan kurang ajar, kita nggak bakal gitu kok :) Jadi buat ADIK – ADIK seveners’015, please kalau kalian pengen ngerasain rasa kekeluargaan yang sama sepertiku, berusahalah buat sopan, nggak sombong, dan nggak ngelunjak :)
            Aku juga ngerasa suka sama SMAN 7 Yk karena bisa nyapa siapa pun dengan nyaman :) Nggak ada rasa takut nyapa kakak kelas atau guru, asalkan kita nyapa dengan sopan dan senyum pasti dibales kok :D hehe. Terus apa lagi yaa?? Hmm… Kayaknya emang udah dari SMP sih aku pengen masuk sini. Sebenernya NEM-ku kemarin 37,75 dan itu udah lebih dari cukup buat daftar ke SMA lain yang menurut orang – orang lebih favorit. Tapi, bagiku, SMAN 7 Yk adalah sekolah yang pas buatku, dan udah ‘favorit’ di hatiku :3
            Dan disini, di SMA Negeri 7 Yogyakarta ini aku menemukan banyaaak sekali pengalaman hidup yang berharga :) Mulai dari cinta, persahabatan, nilai kehidupan, dan lain – lain :) Aku menemukan seseorang yang aku suka, yang istilahnya menjadi cinta pertamaku di masa putih abu, yang akhirnya harus berpisah juga *ujung – ujungnya curhat kan nih guee-__-* dan aku harus belajar buat move on, buat ‘pindah’ yang notabene adalah esensi kehidupan seperti kata Raditya Dika.
Disini lah aku pertama kali diberi kesempatan untuk ikutan Olimpiade Matematika sampai aku bisa ikut OSP yang notabene juga seleksi Nasional. Disini lah aku untuk yang kedua kalinya bisa mengikuti Duta Seni Pelajar 2012 se – Jawa, Bali, dan Lampung. Disini lah aku untuk yang pertama kalinya bisa menjadi seorang reporter di majalah sekolah BRATA. Disini lah aku menjadi satu dari anggota peleton inti KARTIKA yang banyak mempersembahkan piala, dan aku bangga menjadi seorang penjuru kecil :) Disini lah aku belajar berwirausaha dengan jalan menjualkan minyak goreng home industry-nya masku dan blondho :)
Disini lah aku menemukan canda, tawa, bahagia :) Disini pula aku menemukan cemooh, tangis, dan kesedihan :) Aku mendapat banyak teman dari berbagai latar belakang yang sangat beragam, dan itu semakin membuatku kaya akan pengalaman :)

Memang, sekolahku tidak sempurna, tapi sekolahku istimewa :)
Pun jika kalian menganggapnya tidak istimewa, tapi smaven hanya ada satu di dunia :)

Maybe SMAVEN is not as perfect as your high school, but SMAVEN is the best choice for white-grey era :)

Last but not least…
I love SMA Negeri 7 Yogyakarta and all people there, with all of my heart :*

Some of “The Tales of Beedle The Bard” ~ Part 1


Hi guys! ;)
How do you do?

Here, I want to retell you about some stories in “The Tales of Beedle The Bard” *halah sok inggris._.*

Okay! Jadi, ceritanya 26 Juni 2012 lalu, sahabatku si Anastasha Fitriyana baru beli buku ini nih “The Tales of Beedle The Bard” alias “Kisah – Kisah Beedle si Juru Cerita” (Terjemahan dari Hermione Granger dari bahasa Rune kuno) oleh JK Rowling—penulis dari novel Harry Potter Series yang paling fenomenal abad ini—yang sangat aku idolakan…

Apa sih istimewanya atau cerita istimewa di buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini??
Novel ini ada tambahan catatan khusus dari Prof. Albus Dumbledore loh ;) hehe…
Mau tahu beberapa cerita yang paling aku suka dari 5 kisah di buku ini? Let’s check this out!


Air Mancur Mujur Melimpah

     Jauh di atas bukit, dalam sebuah taman ajaib yang dikelilingi dinding – dinding tinggi serta dilindungi sihir yang kuat, berdirilah Air Mancur Mujur Melimpah.
     Sekali setahun, pada jam – jam di antara terbit dan tenggelamnya matahari di hari terpanjang dalam tahun itu, satu orang yang tak mujur mendapat kesempatan untuk berjuang mencari jalan ke Air Mancur, membasuh diri di sana, dan mendapatkan kemujuran yang melimpah untuk selama – lamanya.
     Pada hari yang telah ditentukan, ratusan orang datang dari seluruh penjuru kerajaan agar mereka dapat sampai di dinding – dinding taman sebelum fajar tiba. Laki – laki dan perempuan, kaya dan miskin, tua dan muda, memiliki kekuatan sihir maupun tidak, mereka semua berkumpul di tengah gelapnya malam, masing – masing berharap dirinyalah yang akan berhasil memasuki taman ajaib.
     Tiga penyihir perempuan, dengan masalahnya masing – masing, bertemu di antara kerumunan orang banyak itu. Sambil menunggu terbitnya matahari pagi, mereka menceritakan kesedihan masing – masing kepada yang lainnya.
     Penyihir pertama, bernama Asha, menderita sakit yang tak bisa disembuhkan tabib mana pun. Dia berharap Air Mancur akan menghilangkan semua sakit-penyakitnya dan memberikan umur panjang serta kebahagiaan.
     Penyihir kedua, bernama Altheda, bercerita bahwa rumah, emas, dan tongkat sihirnya telah dicuri penyihir jahat. Dia berharap Air Mancur akan mengembalikan kekuatan serta kekayaannya.
     Penyihir ketiga, bernama Amata, telah ditinggalkan oleh pria yang sangat dicintainya hingga Amata berpikir hatinya takkan pernah sembuh lagi. Dia berharap Air Mancur akan membebaskannya dari duka dan rasa rindu.
     Karena saling mengasihani, ketiga perempuan itu setuju bahwa jika mendapat kesempatan, mereka akan bersatu dan berusaha mencapai Air Mancur bersama – sama.
     Langit mulai disinari cahaya pertama matahari terbit, dan ada celah kecil di dinding yang terbuka. Kerumunan orang itu mendesak maju, setiap orang berseru bahwa merekalah yang berhak atas keajaiban Air Mancur. Sulur – sulur tanaman merambat dari taman ajaib menjulur di antara kerumunan orang, dan melingkar mengikat penyihir pertama, Asha. Asha menggapai pergelangan tangan penyihir kedua, Altheda, yang mencengkeram ujung jubah penyihir ketiga, Amata.
     Dan Amata tersangkut pada baju besi seorang kesatria kumal yang duduk di atas kuda kurus kering.
     Tanaman merambat itu menarik ketiga penyihir masuk ke celah kecil di dinding, dan sang kesatria tertarik dari kudanya, di belakang ketiga penyihir.
     Seruan – seruan marah dari kerumunan orang yang kecewa memenuhi udara pagi, lalu kerumunan itu terdiam ketika dinding – dinding taman tertutup kembali.
     Asha dan Altheda marah kepada Amata yang tak sengaja menarik sang kesatria masuk ke taman bersama mereka.
     “Hanya satu orang yang dapat membasuh diri di Air Mancur! Sudah cukup sulit menentukan siapa diantara kita yang berhak melakukannya, dan sekarang ada tambahan seorang lagi!”
     Sir Luckless, begitulah nama yang diberikan orang – orang di negeri di luar taman ajaib kepada sang kesatria, memperhatikan bahwa ketiga perempuan yang bersamanya adalah penyihir. Dan karena dia tidak memiliki kekuatan sihir, keterampilan hebat dalam berduel dengan tongkat besar sambil berkuda, berduel dengan pedang, maupun keterampilan lain yang berharga, Sir Luckless yakin dia tak mungkin mengalahkan ketiga perempuan itu mencari jalan menuju Air Mancur. Sebab itulah Sir Luckless menyatakan keinginannya untuk mundur dan keluar dari dinding – dinding yang mengelilingi taman itu.
     Mendengar ini, Amata juga menjadi marah.
     “Pengecut!” katanya mencemooh sang kesatria. “Tariklah pedangmu, Kesatria, dan bantu kami mencapai tujuan!”
     Demikianlah ketiga penyihir dan kesatria menyedihkan itu masuk lebih jauh ke taman ajaib. Tanaman – tanaman obat langka dan berbagai jenis buah serta bunga tumbuh melimpah mengapit jalan setapak yang diterangi cahaya matahari. Tak satu pun rintangan mereka temui sampai mereka mencapai kaki bukit tempat Air Mancur berdiri.
     Di sana, seekor cacing putih raksasa melingkar di dasar bukit, matanya buta dan tubuhnya membengkak. Ketika mereka semakin mendekat, cacing itu berbalik dan memperlihatkan wajahnya yang jelek, lalu mengucapkan serangkaian kata:
“Persembahkan kepadaku bukti saktimu.”
     Sir Luckless menghunus pedang dan mencoba membunuh binatang itu, tapi pedangnya justru patah. Lalu Altheda melempari cacing itu dengan batu, sedangkan Asha dan Amata mendaraskan setiap mantra yang mungkin dapat menghilangkan si cacing atau membantu mereka melewatinya, tetapi kekuatan tongkat sihir mereka sama tak bergunanya dengan batu yang dilemparkan Altheda ataupun pedang besi sang kesatria: Cacing itu tetap tak membiarkan mereka lewat.
     Matahari bergerak semakin tinggi di langit, dan Asha yang putus asa mulai menangis.
     Kemudian cacing besar itu mendekatkan wajahnya dan meminum air mata yang mengalir di pipi Asha. Setelah hausnya terpuaskan, cacing itu menggeliat ke samping dan menghilang ke dalam lubang yang terbuka di tanah.
     Gembira karena cacing itu menghilang, ketiga penyihir perempuan dan sang kesatria mulai mendaki bukit. Mereka yakin dapat tiba di Air Mancur sebelum sore menjelang.
Akan tetapi, di tengah perjalanan menaiki lereng terjal, mereka melihat kata – kata yang terukir di tanah di hadapan mereka:
“Persembahkan kepadaku buah usahamu.”
     Sir Luckless mengambil satu – satunya koin yang ia miliki, lalu menaruhnya di sisi bukit berumput itu, tetapi koinnya menggelinding ke bawah dan hilang. Ketiga penyihir dan sang kesatria terus mendaki, namun tak selangkah pun mereka maju, meskipun mereka sudah berjalan selama berjam – jam. Puncak bukit tak juga semakin dekat, dan ukiran kata – kata itu tetap ada di hadapan mereka.
     Keempat orang itu menjadi putus asa ketika matahari terlihat menurun dan mulai bergerak tenggelam di horizon, tetapi Altheda terus berjalan, lebih cepat dan berusaha lebih keras daripada yang lainnya, memaksa yang lain mengikuti contoh yang dia berikan, meskipun dia tak bergerak lebih dekat ke puncak bukit ajaib.
     “Jadilah pemberani, teman – teman, dan jangan menyerah!” seru Altheda sambil menyeka keringat dari keningnya.
     Seiring dengan jatuhnya butir – butir keringat Altheda ke tanah, ukiran kata – kata yang menahan laju mereka perlahan – lahan menghilang, dan kini mereka bisa bergerak semakin dekat ke puncak bukit.
     Bahagia karena rintangan kedua ini berhasil disingkirkan, mereka berjalan secepat mungkin menuju puncak bukit, sampai akhirnya mereka dapat melihat Air Mancur, gemerlapan bagaikan kristal di bawah naungan pepohonan dan bunga – bungaan.
     Tetapi sebelum bisa mencapai Air Mancur, mereka dihadapkan pada anak sungai yang mengelilingi puncak bukit, menghalangi jalan mereka. Di kedalaman air yang bening, terdapat sebuah batu halus yang di permukaannya tertulis:
“Persembahkan kepadaku harta masa lalumu”
     Sir Luckless mencoba menyeberangi anak sungai dengan perisainya, tapi perisai itu tenggelam. Ketiga penyihir menariknya dari air, lalu mencoba melompati anak sungai itu. Namun mereka tidak dapat menyeberanginya, sementara di langit matahari mulai tenggelam semakin jauh.
     Maka mereka semua memikirkan apakah arti pesan pada batu itu, dan Amata yang pertama kali memahami isi pesan tersebut. Dengan tongkat sihirnya, Amata menarik semua ingatan tentang saat – saat bahagia bersama kekasihnya yang hilang dari benak, lalu menjatuhkan semua ingatan itu ke dalam air yang mengalir deras. Anak sungai menghanyutkan ingatan Amata, dan tiba – tiba muncul batu – batu pijakan di sepanjang anak sungai, dan akhirnya ketiga penyihir serta sang kesatria bisa melewati anak sungai, menuju puncak bukit.
     Air Mancur Mujur Melimpah berkilau di hadapan mereka, berdiri di antara tanaman obat serta bunga – bungaan, semuanya lebih langka dan lebih indah daripada yang pernah mereka lihat sebelumnya. Warna langit berubah merah bagaikan permata rubi, dan tibalah waktunya bagi mereka untuk menentukan siapa yang akan membasuh diri di Air Mancur.
     Tetapi, sebelum mereka membuat keputusan, Asha yang lemah terjatuh ke tanah. Kelelahan akibat perjalanan dan perjuangan mereka menuju puncak bukit, dia hampir mati.
Ketiga temannya ingin menggendong Asha ke Air Mancur, tetapi Asha begitu sedih dan menderita segingga dia memohon agar mereka tidak menyentuhnya sama sekali.
Maka Altheda cepat – cepat mengumpulkan berbagai tanaman obat yang menurutnya akan membantu Asha, mencampurnya dengan air di botol minuman Sir Luckless, dan menuangkan ramuan itu ke mulut Asha.
Seketika itu, Asha mampu berdiri lagi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, seluruh gejala penyakit parahnya hilang tak berbekas.
“Aku sembuh!” seru Asha. “Aku tak perlu membasuh diri di Air Mancur—biar Altheda yang membasuh diri!”
Tapi, Altheda sedang sibuk mengumpulkan lebih banyak lagi tanaman obat.
“Jika aku bisa menyembuhkan penyakit ini, aku pasti bisa memperoleh emas berlimpah! Biar Amata saja yang membasuh diri!”
Sir Luckless membungkuk, mempersilakan Amata berjalan menuju Air Mancur, tapi Amata malah menggeleng. Anak sungai tadi telah menghanyutkan seluruh penyesalan Amata atas kekasihnya, dan dia menyadari bahwa selama ini kekasihnya memang jahat dan tak setia, terbebas dari laki – laki itu saja sudah merupakan kebahagiaan besar baginya.
“Kesatria yang baik, Andalah yang harus membasuh diri di Air Mancur, sebagai balasan atas semua tindakan kesatria Anda!” kata Amata pada Sir Luckless.
Maka sang kesatria berjalan maju ke arah Air Mancur Mujur Melimpah, dengan baju besi lengkap, di tengah cahaya terakhir matahari yang hampir tenggelam sepenuhnya, dan membasuh diri di air mancur itu. Sir Luckless betul – betul tak menyangka dirinya yang terpilih dari ratusan orang yang menunggu – nunggu kesempatan ini, hingga dia gemetar gembira karena kemujurannya.
Ketika matahari turun di kaki langit, Sir Luckless melangkah keluar dari bawah Air Mancur dengan penuh kemenangan dan kemuliaan. Dalam baju besinya yang karatan, Sir Luckless berlutut di hadapan Amata, perempuan paling baik hati dan cantik yang pernah dilihatnya. Dengan gembira dan bangga karena keberhasilannya, sang kesatria memohon agar Amata sudi membuka hati untuknya dan menikah dengannya, dan Amata, yang tak kalah gembiranya, menyadari bahwa dia telah menemukan laki – laki yang pantas mendapatkan cintanya.
Akhirnya, ketiga penyihir dan sang kesatria bersama – sama menuruni bukit, bergandengan tangan, dan sejak saat itu keempatnya memperoleh umur panjang dan hidup bahagia. Dan tak seorang pun pernah curiga bahwa sebenarnya Air Mancur Mujur Melimpah sama sekali tidak memiliki keajaiban.
Tamat


Catatan Albus Dumbledore tentang “Air Mancur Mujur Melimpah”

Hmm… Diomongin gak yaa enaknya?? Enggak usah aja kalik yaah ;)
Jadi buat temen – temen yang penasaran dengan catatan Prof. Dumbledore tentang kisah ini bisa langsung pergi ke Gramedia atau toko buku terdekat, lalu cari buku “Kisah Beedle Si Juru Cerita” ini, ke kasir, bayar, dan langsung baca deeh :D Atau bisa juga cari temanmu yang punya buku ini, terus pinjam deh :D *kayak aku misalnya :3* hehe Beres kaan? :P
Oh iya, aku pengen ikutan Pak Dumbledore ah… Aku mau ngasih catatan tentang kisah ini :)


Catatan Erwita Danu Gondohutami tentang “Air Mancur Mujur Melimpah”

            Pertama membaca kisah sederhana ini, aku langsung tertarik. Kenapa? Karena meskipun sederhana, imajinasiku tetap bisa bermain dengan bebas dan luas. Bagiku cerita ini adalah fairy tale yang indah dengan akhir yang lembut. Pesan moralnya ada banyak, dan sebagian dapat dengan mudah ditangkap.
            Penggambaran latarnya tepat. Nggak lebay, tapi tetap bisa dibayangkan betapa indahnya kehidupan disana. Jalan ceritanya jelas, dan yang tak kalah pentingnya, penuh fantasi khas JK Rowling. Kisah yang sarat pesan moral untuk terus bekerja keras, pantang mundur, dan saling membantu. Bisa kita bayangkan apa jadinya Asha, Altheda, Amata, dan Sir Luckless kalau mereka tidak mau bahu membahu.
            Aku cukup tersentuh di bagian akhir. Saat Amata mau merelakan ingatan / kenangan manisnya dengan (mantan) kekasihnya untuk dipersembahkan ke anak sungai *andai saja aku bisa melakukannya, pasti aku udah berhasil move on juga #curhatanpenulis* dan akhirnya mereka bisa sampai di tujuan. Saat ketiga temannya mau menggendong Asha, tapi Asha-nya nggak mau. Itu mengharukan sekali :”) Kalau aku jadi Asha, mungkin aku bakalan mau digendong mereka dan mendapat kesempatan membasuh diri di Air Mancur Mujur Melimpah itu…
            Dan aku seneng banget di endingnya, Amata bisa move on! Dia menyadari lelaki seperti apa mantan kekasihnya *ahh andai aku bisa seperti Amata, andai aku punya tongkat sihir yang bisa kupakai untuk mengambil ingatan itu… #curhatlagi #galaulagi-__-* dan sudah tidak menyesal karena terlepas dari lelaki itu… Amata juga mau membuka hati untuk Sir Luckless yang tidak istimewa… Huaaaa… Amata itu baik banget yaa? :”) hehe


Yeaaaahh! I think that’s all for this posting…

Oh iya! *wush pake bold segala._. eh tapi penting sih* Aku kan tadi bilangnya “some”, jadi harusnya ada beberapa…
Nah, berhubung ini udah puanjaaaang banget nyampe Belanda, maka dari itu, ini baru part 1-nya…
So be patient yaah ;)

See you on the second part!! :D


#salam cinta JK Rowling :3 :*